- Diposting oleh : Mahasiswa Cumlaude
- pada tanggal : 07 Desember
![]() |
| Foto: Tim Medankampus.com |
Medankampus.com - Ephorus Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Pdt. Dr. Victor Tinambunan, menegaskan bahwa rangkaian bencana yang melanda Sumatera bukan merupakan ujian atau takdir dari Tuhan, melainkan akibat langsung dari perilaku manusia yang merusak lingkungan.
Pernyataan itu disampaikan dalam sambutannya pada acara wisuda Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Sabtu (6/12/2025).
Ephorus menyebut, berdasarkan data yang dihimpun HKBP, sekitar 800 orang dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 700 lainnya masih hilang.
Selain itu, sebanyak 6.001 kepala keluarga jemaat HKBP harus mengungsi setelah rumah mereka hancur diterjang bencana.
Ia menegaskan bahwa kerusakan hutan yang masif sudah menjadi bukti nyata penyebab bencana ekologis tersebut.
"Buktinya sangat jelas. Kita bisa melihat sendiri melalui citra satelit, bagaimana kondisi hutan yang rusak. Puluhan truk mengangkut kayu besar setiap hari selama bertahun-tahun. Dan kini, kayu-kayu besar itu ikut terbawa banjir," ujarnya.
Menurutnya, pejabat publik yang sedang menelusuri kerusakan alam patut mendapat dukungan penuh.
Namun ia menekankan bahwa bukti-bukti kerusakan begitu gamblang sehingga langkah pemulihan harus segera dilakukan secara bersama-sama.
"Ini bencana ekologis, buatan tangan manusia, kerakusan manusia yang tidak bertanggung jawab," tegasnya.
Kepada para wisudawan, Ephorus memperkenalkan prinsip Cerdas, Kritis, dan Santun (CKS) sebagai bekal memasuki dunia profesional.
Ia menjelaskan bahwa kecerdasan tidak hanya bertumpu pada teori, melainkan kemampuan membaca zaman, memahami luka-luka sosial, dan mencari jalan pemulihan.
Dalam situasi bencana dan banjir hoaks, katanya, kejernihan berpikir menjadi sangat penting.
Ia juga menekankan pentingnya kritik yang dilandasi keberanian untuk menyampaikan kebenaran secara bertanggung jawab.
Kritik, menurutnya, merupakan bentuk kasih yang mencegah masyarakat semakin terjerumus.
Sikap santun, lanjutnya, adalah fondasi untuk menghargai sesama dan membangun dialog yang sehat.
"Dengan santun, kritik menjadi jernih; dengan santun, kecerdasan menemukan jalannya," tuturnya.
Sementara itu, Rektor Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Muktar Panjaitan, menegaskan bahwa wisuda bukan hanya seremoni.
Ia mengatakan momentum memperkuat komitmen kampus untuk menjadi institusi pendidikan tinggi yang berkarakter, unggul, dan memberi dampak bagi masyarakat.
Pada Dies Natalis ke-8 ini, universitas mewisuda 420 lulusan dari 13 program studi di tiga fakultas.
Acara tersebut turut dihadiri pengurus dan pengawas Yayasan Universitas HKBP Nommensen, perwakilan LLDIKTI Wilayah I, serta jajaran Muspida Plus daerah. (Manaor/Red)
