- Diposting oleh : Penulis Cantik
- pada tanggal : 27 Mei
![]() |
| Samuel Simatupang (Ketua GMKI Medan) |
Medankampus.com - Badan Pengurus Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (BPC GMKI) Medan mendesak seluruh pihak menghentikan tindakan pengosongan paksa terhadap jemaat di Chapel Oikumene Universitas Sumatera Utara (USU) yang dilakukan dengan dalih renovasi gedung.
Ketua BPC GMKI Medan Samuel Simatupang menilai keterlibatan aparat keamanan kampus untuk mengusir jemaat mencederai nilai humanisme dan dialog yang seharusnya dijunjung tinggi lingkungan akademis.
"Ketika rencana renovasi datang bersamaan dengan pemaksaan pengosongan gedung dan penutupan akses ibadah secara represif, publik berhak bertanya: apakah ini murni proyek pembangunan fisik, atau sekadar 'kuda troya' untuk melakukan pembersihan terhadap kepengurusan lama?," tutur Samuel, dilansir dari indosatu.id, Rabu (27/8/2026).
Menurutnya, dinamika yang terjadi telah bergeser dari urusan pelayanan menjadi benturan ego sektoral antara legalitas formal negara dan hak historis gereja kampus.
Ia mengakui niat Yayasan dan Persekutuan Intelengsia Warga Kristen (PIWK) untuk merenovasi gedung demi perluasan kapasitas dan mitigasi banjir merupakan hal positif.
Namun cara eksekusi yang represif dinilai menimbulkan kecurigaan publik.Samuel mengkritik sikap pihak rektorat dan pengurus baru yang berlindung pada Surat Keputusan Rektor tahun 1986 yang menetapkan lahan tersebut sebagai aset USU.
Secara hukum agraria, status itu memang sah. Akan tetapi, kampus dinilai mengabaikan kesepakatan moral dan historis berdirinya gereja oikumene kampus sebagai pusat pembinaan iman mahasiswa.
"Jemaat, penatua, dan pendeta yang bertugas di sana selama puluhan tahun telah menaruh keringat, air mata, dan materi untuk menghidupkan Chapel USU. Menghapus hak historis mereka secara sepihak dengan dalih secarik kertas regulasi administrasi adalah bentuk kenaifan hukum yang mencederai keadilan substantif," katanya.
GMKI Medan juga mengajukan tiga tuntutan. Pertama, menghentikan cara-cara premanisme kampus dalam penyelesaian masalah. Kedua, melakukan audit transparansi kepengurusan melalui verifikasi bersama. Ketiga, memberikan jaminan ibadah dengan memfasilitasi tempat ibadah sementara yang layak dan tertulis.
Samuel mengingatkan agar rumah ibadah tidak dijadikan panggung perebutan pengaruh yang menjadi batu sandungan bagi kesaksian iman Kristen di mata civitas akademika non-Kristen.
Dirinya mengutip prinsip oikumene "Ut Omnes Unum Sint" agar mereka semua menjadi satu.
"Gedung Chapel USU bisa saja dibangun kembali menjadi lebih megah, tetapi rusaknya persaudaraan di lingkungan kampus akan membutuhkan waktu generasi untuk menyembuhkannya. Kepada Rektor USU dan pihak gereja di kedua kubu, mari turunkan ego, duduk di meja yang sama, dan kembalikan kedamaian di altar Chapel USU," pungkasnya.
Sumber: indosatu.id
Editor: Admin
