- Diposting oleh : Penulis Cantik
- pada tanggal : 09 Juni
![]() |
| Eddy Iriawan memaparkan hasil penelitian disertasinya di hadapan para dosen penguji (Foto: Prof. Himsar Ambarita) |
Medankampus.com - Eddy Iriawan secara resmi telah menyandang gelar Doktor Ilmu Komunikasi usai mempertahankan disertasinya berjudul 'Model Manajemen Komunikasi Dalam Merekonstruksi Citra Kepolisian Negara Republik Indonesia'.
Sidang promosi doktor jurnalis senior di Sumut itu digelar di Ruang IMT-GT Biro Rektor USU, pada Senin 8 Juni 2026 kemarin.
Eddy dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude oleh pimpinan sidang, Wakil Rektor III USU Prof. Himsar Ambarita.
Sidang menghadirkan tim promotor Prof. Iskandar Zulkarnain, Prof. Humaizi, dan Prof. Dewi Kurniawati, serta penguji eksternal Prof. Suwardi Lubis, Prof. Lusiana Adriani Lubis, dan Prof. Dadang Rahmat Hidayat.
Pada sidang terbuka itu, Kadiv Humas Polri Irjen Pol. Johnny Eddizon Isir dan Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Ferry Walintukan juga tampak hadir sebagai tamu.
Dalam penelitian disertasinya, Eddy menyoroti dampak banjir informasi di era digital terhadap citra Polri.
![]() |
| Eddy Iriawan memaparkan hasil penelitian disertasinya (Foto: Prof. Himsar Ambarita) |
Dirinya menemukan sekitar 66,2 persen citra negatif Polri berasal dari pengalaman buruk pribadi masyarakat saat berurusan dengan polisi, seperti pengaduan yang tidak direspons.
Kondisi ini semakin diperparah oleh dua kasus besar yang menyeret perwira tinggi Polri, kasus Ferdy Sambo dan narkoba Teddy Minahasa.
"Walaupun dilakukan oknum, kuatnya arus informasi membuat publik menggeneralisasi kejahatan itu ke institusi," jelas Eddy, pria yang sudah aktif di dunia jurnalistik sejak reformasi 1998.
Jika ingin mereduksi citra negatif yang massif, Eddy merumuskan kebaruan atau novelty berupa model PRISM (Publik Response Integrated Strategic Management Image Recover).
Baca Juga: UHN Medan Gandeng JP Holdings Group, Buka Peluang Kerja ke Jepang bagi Mahasiswa dan Alumni
Dalam penjelasannya, model ini menuntut Polri tidak hanya melakukan framing media atau konstruksi narasi, tapi merespons tekanan tagar di media sosial lewat strategi komunikasi dan manajemen citra secara bersamaan.
Adapun PRISM Polri terdiri dari 8 langkah strategis, yakni:
- Pemantauan aktivitas tagar,
- Klasifikasi isu berdasarkan segmen politik dan sosial,
- Analisis konteks sosial dan aktor kunci,
- Respons terintegrasi berupa klarifikasi berbasis data,
- Kolaborasi lintas lembaga,
- Dialog publik via diskusi daring dan polling,
- Evaluasi berkala dampak komunikasi terhadap opini publik,
- Dokumentasi serta adaptasi strategi untuk penanganan isu serupa.
"Yang terpenting adalah keseragaman gerak divisi humas dari Mabes, Polda, hingga Polsek. Itu kunci keberhasilan merestrukturisasi citra positif Polri," jelas Eddy.
Penulis: Manaor Limbong
Editor: Admin

